Legenda Gunung Tangkuban Perahu

Monday, August 22nd, 2016 - Dongeng Legenda

Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Gunung Tangkuban Perahu. Mari kita simak Cerita Rakyat Sangkuriang ini selengkapnya.

Cerita Rakyat Jawa Barat Sangkuriang

cerita rakyat jawa barat, cerita rakyat sangkuriang, asal mula gunung tangkuban perahu, asal usul gunung tangkuban perahu, legenda gunung tangkuban perahu

Sangkuriang Menendang Perahu
gambar via bayusatrya007.blogspot.com

Alkisah pada zaman dulu kala, ada sebuah kerajaan yang sejahtera di daerah Jawa Barat. Raja memiliki seorang anak bernama Dayang Sumbi. Ia adalah seorang wanita yang cantik jelita dan telah memiliki seorang anak yang bernama Sangkuriang.

Pada suatu hari Sangkuriang pamit kepada ibunya untuk berburu hewan di hutan rimba. Sangkuriang memang mempunyai kebiasaan berburu. Ia sangat lihai sekali berburu hewan-hewan di hutan luar sana.

“Ibu, aku ingin berburu di hutan. Sangkuriang mohon pamit, Ibu” Ucap Sangkuriang.

“Berangkatlah nak, jangan sampai kamu lupa membawa si Tumang Berburu” jawab Ibunya.

Berangkatlah Sangkuriang berburu di hutan dengan ditemai si Tumang yang merupakan seekor anjing setia. Tahukah kalian siapa si Tumang sebenarnya?, Tumang sebenarnya adalah Ayah Sangkuriang yang berubah wujud. Dayang Sumbi merahasiakan semua ini dari Sangkuriang.

Baca juga : cerita abu nawas

Setelah sampai di hutan, Sangkuriang mulai berburu, dan ia memperoleh hasil buruan yang banyak. Keesokan harinya Sangkuriang kembali berburu lagi, tapi hari ini berbeda. Tumang disuruh mengejar seekor babi hutan, Tumang menolaknya dengan berdiam diri tak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Tumang tahu bahwa babi hutan itu bukan binatang sembarangan, babi itu jelmaan Dewi Wayung Hyang. Sangkuriang marah lalu menakut-nakuti Tumang dengan mengarahkan anak panah tepat dihadapan Tumang.

“Tumang, kamu tidak menuruti perintahku. Lihat busur panah ini, aku akan memanahmu sekarang” teriak Sangkuriang.

Tumang tetap tak mau mengikuti perintah Sangkuriang, ia terus memandangi Sangkuriang sambil berdiam diri. Sangkuriang dalam keadaan marah lalu mengambil anak panahnya dan mengarahkan ke Tumang. Namun tak disangka, Sangkuriang yang berniat hanya menakut-nakuti Tumang, anak panah itu tiba-tiba terlepas dan mengenai kepala Tumang. Ia tewas seketika.

Melihat kejadian itu Sangkuriang menyesal dan ketakutan, ia lalu membawa tubuh anjing itu pulang ke kerajaan. Dayang Sumbi kaget melihat tubuh Tumang terbujur kaku, ia sangat sedih dan bertanya kepada Sangkuriang apa yang terjadi sebenarnya.

“Ada apa dengan Tumang, Nak?” bertanya Dayang Sumbi.

“Maaf ibu, ia tadi tak menuruti perintahku, aku hanya menakutinya dengan mengarahkan anak panahku ke Tumang, namun aku tidak sengaja anak panah itu terlepas dan membunuh Tumang” jawab Sangkuriang.

Baca juga : legenda sungai jodoh

Mendengar penjelasan Sangkuriang, Dayan Sumbi murka. Ia mengambil centong nasi lalu memukul Sangkuriang dan mengusirnya pergi, Karena Sangkuriang tega membunuh Ayah kandungnya sendiri walau tanpa sepengetahuan Sangkuriang bahwa Tumang adalah Ayahnya. Sangkuriang lari menuju hutan karena di usir ibunya.

Dayang Sumbu menyesal telah melukai hati anak kandungnya. Ia bersemedi cukup lama sehingga Dewa menganugerahkan awet muda dan tetap cantik jelita.

Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang telah dewasa. Setelah sekian lama pergi, ia memutuskan kembali. Sampai di kerajaan, Sangkuriang berjalan-jalan sekitar kerajaan. Ia melihat banyak sekali perubahan. Dan saat Sangkuriang berjalan menuju teman kerajaan, ia melihat seorang wanita cantik dan anggun. Wanita itu tidak lain adalah Dayang Sumbi yang awet muda.

Dayang Sumbi tidak mengetahui bahwa pemuda tampan itu adalah anak kandungnya, akhirnya mereka saling jatuh cinta. Saat Dayang Sumbi mengikatkan tali kepala Sangkuriang, ia melihat ada bekas luka di kepalanya, Dayang Sumbi mengenalinya bahwa itu adalah bekas luka karena dipukul dengan centong nasi sewaktu masih kecil.

Sebelum semuanya terlanjur, Dayang Sumbi menjelaskan yang sebenarnya bahwa Sangkuriang adalah anak kandungnya. Namun Sangkuriang tetap tidak percaya dan bersikeras tetap ingin menikahi Dayang Sumbi. Akhirnya Dayang Sumbi memberi syarat jika ingin menikahinya maka Sangkuriang harus membuatkan danau dan perahu dalam waktu semalam.

Demi keinginannya terwujud, Sangkuriang menyanggupi syarat itu. Malam itu dengan bantuan jin-jin, Sangkuriang mengerjakannya. Dayang Sumbi terkejut melihat kedua permintaanya itu hampir jadi, kemudian dia berpikir mencari cara agar semua itu gagal. Setelah menemukan cara, Dayang Sumbi membuat perapian di sebelah timur lalu membangunkan ayam-ayam jago dikandang. Melihat ada yang terang dibagian timur dan mendengar ayam jago berkokok, jin-jin itu mengira bahwa hati telah pagi. Akhirnya jin-jin itu pergi kembali ke asal mereka dan meninggalkan Sangkuriang sendirian.

Baca juga :  legenda candi prambanan

Melihat kejadian itu, Sangkuriang marah besar. ia sangat murka karena merasa di curangi oleh Dayang Sumbi. Sangkuriang menjebol bendungan danau yang dibuatnya tadi dan menendang perahu hingga terbalik. Sejak kejadian itu konon perahu itu sekarang menjadi gunung di Jawa Barat yang bernama Gunung Tangkuban Perahu.

Demikianlah Asal Mula Gunung Tangkuban Perahu. Semoga bermanfaat.

Incoming search terms:

  • cerita rakyat singkat tangkuban perahu
  • cerita singkat tangkuban perahu
  • cerita tangkuban perahu
  • cerita fantasi gunung tangkuban perahu
  • legenda gunung tangkuban perahu
  • cerita tangkuban perahu singkat
  • cerita rakyat tangkuban perahu
  • cerita fantasi tangkuban perahu
  • cerita rakyat gunung tangkuban perahu
  • legenda tangkuban perahu singkat
  • mendeskripsikan cerita rakyat tangkuban perahu
  • cerita singkat gunung tangkuban perahu
  • cerita pantasi gunung tangkuban perahu
  • cerita rakyat jawa barat sangkuriang
  • carpen legenda gunung tangkuban perahu
  • cerita pendek tangkuban perahu
  • cerita legenda gunung takuban perahu
  • cerita fantasi tentang legenda
  • cerita fantasi kerajaan yang pendek
  • sejarah singkat legenda tangkuban perahu
Legenda Gunung Tangkuban Perahu | Tukang Dongeng | 4.5