Dongeng Cerita Sedih Anak Selamat Tinggal Sahabat

By | May 14, 2016

Kumpulan dongeng anak kali ini berjudul Dongeng Sedih Anak Selamat Tinggal Sahabat. Mari kita simak dongeng selengkapnya.

Cerita Sedih Tentang Sahabat

Bel sekolah berbunyi menandakan waktu pulang sekolah, Edo, Anton, Harun dan Iwan pulang bersama-sama berjalan kaki, rumah mereka tak jauh dari sekolahan, dari kecil mereka bersahabat baik itu di rumah atau pun di sekolah. Sepulang sekolah, mereka juga bermain bersama hingga tiba sore hari mereka pulang untuk mandi dan belajar. Setiap berangkat sekolah pun mereka saling mengahampiri karena kebetulan mereka satu kampung. Hari demi hari mereka lewati dengan penuh canda dan tawa. Persahabatan sejati yang tak terlupakan sampai kapan pun.

Baca juga dongeng anak ayah yang baik hati

dongeng sedih, dongeng tentang sahabat, cerita dongeng anak,kumpulan dongeng anak,kisah sedih

Sahabat
gambar via brodanang.wordpress.com

Di pagi yang cerah, Edo menghampri Anton.

“Anton, ayo berangkat sekolah” teriak Edo.

“Sebentar Do, aku pakai sepatu dulu” jawab Anton.

“Iya aku tunggu, Ton” ucap Edo.

Mereka pun berangkat dan menghampiri Harun.

“Harun, ayo berangkat sekolah” teriak mereka berdua.

“Iya sebentar, aku habiskan sarapanku dulu” jawab Harun.

“Run, apa kamu tahu iwan kemarin muka nya sedih kenapa?” tanya Anton.

“Wah, aku kurang tahu. Kemarin Iwan juga tidak cerita apa-apa kok” jawab Harun.

“Ya sudah, ayo lekas ke rumah Iwan, nanti pulang sekolah kita tanya bersama-sama” ajak Edo.

“Iya Do, ide bagus tuh” jawab Harun sambil berjalan.

Mereka bertiga berjalan bersama-sama ke rumah Iwan. Sampi di depan rumah Iwan, alangkah terkejutnya mereka.

“Eh, rumah Iwan kok sepi?” tanya Edo.

“Coba kita panggil saja” jawab Harun.

“Iwan, ayo berangkat sekolah, keburu bel masuk” teriak mereka bertiga.

Tak ada jawaban dari rumah Iwan, mereka bertiga terus memanggil-manggil, namun sepertinya memang tidak ada orang dirumah Iwan. Setelah beberapa saat, mereka pun meninggalkan rumah Iwan dan berangkat sekolah dengan hati penasaran.

“Aku tak mengerti Do, Iwan kenapa ya? kok tiba-tiba menghilang tanpa kabar” tanya Anton.

“Aku juga ga tahu Ton. kemarin dia juga ga cerita apapun” jawab Edo.

“Coba nanti pulang sekolah kita mampir kerumah Iwan untuk mencari tahu semua ini” sahut Harun.

Setibanya di sekolah, bel masuk pun berbunyi. Mereka masuk ke kelas masing-masing. Sementara itu, Iwan dan orang tua nya ternyata sedang mengurus surat pindah penduduk. Mereka pagi-pagi sekali ke kelurahan karena waktu memang keadaan sangat mendesak. Sebelumnya keluarga Anton sudah janjian dengan Pak Lurah di Kelurahan lebih awal.

Siang itu, bel pulang sekolah berbunyi, Edo, Anton dan HarunĀ  berjalan menuju rumah Iwan. Sesampainya di rumah Iwan mereka terkejut. Rupanya keluarga Iwan pindah rumah sore nanti, mereka mengepak barang-barang dirumah dan menunggu mobil datang.

“Kamu mau kemana, Wan?” tanya Edo penasaran.

“Iya Wan, kamu mau kemana?” sahut Anton dan Harun.

“Maaf teman-teman, keluarga aku mau pindah rumah sore ini juga” jawab Iwan dengan nada sedih.

“Kamu mau pindah kemana?, kemarin kok kamu tidak cerita kepada kita” ucap Harun.

“Aku tidak bisa menceritakan semua ini kepada kalian, karena aku malu” kata Iwan dengan nada lirih.

“Kami sahabatmu, Wan. Apapun yang terjadi, kamu tetap sahabat kami dan kami tidak akan mengejek atau pun membiarkan kamu sedih” sahut Anton.

Baca juga : cerita dongeng anak menjaga kebersihan lingkungan

“Sekarang ceritakan semua kepada kami, Wan” pinta Edo.

Dengan susana yang sedih, sepertinya Iwan sangat terpukul dengan kejadian ini. Ia pun bingung harus memulai menceritakan dari mana tentang masalah keluarganya. Namun akhirnya Iwan menceritakan semuanya.

“Usaha bapakku bangkrut, hutang bapak banyak, dan rumah ini sebagai jaminan hutang bapak” kata Iwan.

“Bapak tidak bisa melunasi hutang dan rumah ini akan segera di sita, sore ini juga kami sekeluarga harus pindah” tambah Iwan.

“Kami ikut sedih Wan, kami juga tidak bisa membantu kamu” kata Edo.

“Kamu mau pindah kemana, Wan?” tanya Harun.

“Untuk sementara, aku ke rumah nenek dulu dan aku pindah sekolah disana” jawab Iwan.

“Kami sedih harus kehilangan sahabat, namun kami juga tidak bisa berbuat apa-apa. Semoga persahabatan kita ini tetap utuh Wan, sampi kapan pun” ucap Harun.

“Wan, jangan lupakan kami ya. Apapun yang terjadi, kamu tetap sahabat kami” Sahut Anton sedih.

“Kalian tetap sahabatku, aku tidak akan melupakan kalian, teman-teman terbaikku” jawab Iwan menitikkan air mata.

Mereka berempat pun berpelukan dengan di iringi air mata kesedihan. Edo, Anton dan Harun benar-benar sangat sedih karena harus berpisah dengan Iwan, sahabat dari kecil.

Waktu menunjukkan jam 3 sore, mobil pengangkut barang pun datang. Barang-barang keluarga Iwan dinaikkan ke atas mobil. Sebelum berangkat, Edo, Anton, Harun dan Iwan berjabat tangan dan mengucap salam perpisahan. Betapa sedihnya harus perpisah dengan sahabat sejati.

Baca juga : dongeng fabel persahabatan kancil dan paus

“Dalam sebuah pertemuan pasti ada perpisahan. Namun, perpisahan yang sangat indah adalah ketika kita bergenggam tangan, dan berjanji, “Kita untuk selamanya sahabat, walaupun jarak menjauh, waktu memisahkan kita, namun dirimu akan tetap terkenang dalam sanubariku.”

Demikianlah cerita sedih tentang sahabat. Semoga bermanfaat.

Incoming search terms:

  • dongeng sedih
  • Cerita dongeng sedih
  • Dongen tentang persahabatan
  • cerita selamat tinggal sahabatku
  • cerita sedih dongeng yg pendek
  • Cerita Tentang di tinggal Sahabat
  • kumpulan dongeng sedih
  • dongeng tentang perpisahan
  • cerita kamu bertiga mahu kemana
  • cerita selamat tinggal sobat
  • cerita sedih tentang sahabat
  • cerita sedih teman pindah sekolah
  • Surat untuk sahabat yang mau pindah rumah
  • Cerita sedih perpisahan persahabatan
  • cerita sedih karena ke sekolah berjalan kaki
  • cerita dongengen untuk perpisahan
  • Cerita sedih di sekolah saat berpisah
  • cerita fabel sedih
  • cerita saat aku pindah sekolah meninggalkan sahabt
  • cerita persahabatan sedih