Dongeng Anak Durhaka Si Umbut Muda

Friday, May 27th, 2016 - Dongeng Legenda

Dongeng Anak Durhaka Si Umbut Muda. Mari kita simak dongeng anak durhaka selengkapnya.

dongeng anak durhaka, Si Umbut Muda

Ilustrasi Si Umbut Muda
gambar via riaukepri.com

Dahulu kala di Siak Indrapura ia bernama Mempura. Mempura adalah sebuah daerah yang sangat subur. Masyarakatnya hidup dengan bermata pencarian sebagai petani, berkebun dan juga berdagang. Daerah Mempura terdapat sungai yang sangat besar yaitu sungai Siak. Di mempura hiduplah seorang janda setengah baya dengan seorang anak gadisnya bernama Si Umbut Muda. Gadis ini sangat cantik parasnya dan sangat menawan hati. Karena selalu di puja puji, Si Umbut Muda menjadi tingi hati, congkak dan menjadi angkuh. Dalam bergaul Si Umbut Muda selalu pilih-pilih. Kalau tidak dengan kaum bangsawan atau sekelasnya, dia tidak mau bergaul. Apalagi bergaul dengan rakyat jelata, ia tak akan sudi.

Baca juga dongeng putri salju dan tujuh kurcaci

Pakaian Si Umbut Muda mestilah kain sutra termahal, kain songket tenunan Trengganu yang di lengkapi dengan selendang kain mastuli tenunan Daik.Emas dan perak tempaan yang datangnya dari negeri Cina. Gelang sepang di tanggannnya bersusun lima rangkat yang beratnya seimbang delapan tali. Utunglah, harta peninggalan ayahnya cukup banyak. Kalau tidak banyak apa yang mau di harapkanya. Apalagi sang ibu hanya seorang pengrajin tenun yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Selain itu Si Umbut Muda juga memperlakukan sang ibunya sendiri seperti sang pembantu. Pernah suatu hari  sang ibu terlambat menyiapkan makanan untuknya,langsung di marahin habis-habisan. Tetapi sang ibu tetap sabar.Ibu yang bernasib malang ini harus tunduk di bawah perintah  sang anak yang di manjakan dari sejak kecil sampai remaja.

Pada suatu hari, ada pernikahan putri salah seseorang bangsawan ternama di Mempura. Undangan terdiri atas orang-orang ternama. Si Umbut juga mendapat undangan dari putri bangsawan tersebut. Mendapat undangan dari putri bangsawan tersebut hati Si Umbut merasa tersanjung sekali. Ia bingung memilih gaun mana yang pantas untuk di pakai ke pesta pernikahan nanti. Ahirnya, Si Umbut menghadiri pernikahan tersebut dengan memakai gaun yang mewah dan perhiasan yang mewah pula.

“Mak mari berangkat!. Hari telah siang. Nanti kita ketinggalan manghadiri pesta itu” kata Si Umbut Muda.

“Mari anakku” jawab ibunya.

“Mak jangan lupa bawa payung kesukaanku ” kata Si Umbut lagi.

Kedua perempuan itu meninggalkan rumahnya. Di dalam perjalanan itu, Si Umbut Muda bagaikan sang putri raja yang di sebelahnya ada dayang yang setia mengikuti sambil membawakan payung. Si Umbu Muda merasa hidupnya tersanjung, ia memamerkan kecantikannya kepada  penduduk di kampungnya. Jalan Si Umbut Muda melenggak-lenggok tanpa memikirkan orang di sekelilingnya. Tak berselang lama Si Umbut Muda terantuk sampai berdarah. Ia pun mengomel kepada ibunya.

“Mak, kenapa tidak menyingkirkan batu itu sampai mengenai kakiku sampai berdarah?” bentak Si Umbut.

“Anakku, akan kusingkirkan batu itu” Jawab ibunya dengan suara lirih.

Itulah kelakuan Si Umbut Muda kepada sang ibunya selalu menyalahkan tanpa ada rasa belas kasihan kepada ibunya. Semakin lama semakin dekat pada tempat yang di tuju. Tempat pesta pernikahan itu berada di seberang sungai Siak. Jika hendak mau ketempat sana harus melewati jembatan sungai. Segera Si Umbut Muda dan ibunya melewati jembatan di atas sungai Siak tersebut. Jembatan itupun dilewatinya dengan hati-hati. Ibunya bertugas sebagai tukang payung, berjalan di sebelah kiri. Entah apa penyebabnya tiba-tiba gelang yag di pakai di tanganya itu terpelanting lalu jatuh ke dalam sungai, apalagi sungai itu dalam sekali. Melihat kejadian itu Si Umbut Muda kaget sebab perhiasan yang di pakainya tiba-tiba jatuh ke sungai.

“Mak gelang Umbut jatuh dua rengket, empat jumlahnya” kata Si Umbut Muda kepada ibunya dengan nada keras.

“Gelang-gelang itu jatuh kedalam sungai itu, Mak!” katanya lagi. Tanpa berfikir panjang ,ia lalu menyuruh ibuya terjun ke air sungai.

“Mak, selami gelangku mak …!” kata Si Umbut Muda sambil mendorong ibunnya itu ke dalam sungai.

“Menyelamlah, Mak…!” Perintahnya.

“Arus sungai deras nak ..Mak tak berani menyelam!” kata ibunya sambil berenang.

Untungnya sang ibu pandai dalam berenang sewaktu di dorong Si Umbut Muda dengan tiba-tiba ke dalam sungai. Ibunya kembali ke jembatan lagi. Ia berfikir tak akan lagi bisa mengambil gelang-gelang yang jatuh di dasar sungai. Si Umbut Muda begitu marahnya kepada ibuya. Ia pun mengambil sebatang kayu bercabang lalu di tekankan ke tengkuk ibunya dengan keras sekali.

“Ambilkan gelangku…menyelamlah!” bentaknya keras-keras.

“Mak ..sudah tidak sayang lagi pada Umbut” Katanya lagi.

Ahirnya sang ibu terjun ke sungai lagi dengan aliran air yang cukup deras. Karena arusnya terlalu besar, maka sang ibu tidak berhasil mengambil gelang-gelang yang jatuh kedasar sungai tersebut. Sementara itu Si Umbut Muda berdiri di atas jembatan sambil mengumpat ibunya terus menerus.

“Si Umbut anakku ,biarlah gelang-gelang tadi jatuh ke sungai karena sudah tak bisa di ambil lagi.Kamukan masih banyak gelang di rumah” Kata ibunya dengan halus.

Mendengar ucapan ibunya itu. Si Umbut bertambah marah sama ibunnya. Karena gelang tersebut adalah gelang yang paling di sukai dan harganya sangat mahal. Semakin lama  air mengalir dengan deras sekali. Angin yang menerpa air sungai menyebabkan aliran sungai menjadi deras sekali. Hujan di sertai angin tiba-tiba turun dengan lebat. Semakin lama, hujan semakin lebat di sertai angin yang sangat kencang. Tak beberapa lama angin puting beliung datang bergulung-gulung dan menghantam jembatan tempat berdirinya Si Umbut Muda berada. Seketika jembatan itu hancur berkeping-keping terbawa aliran sungai yang sangat deras. Melihat keadaan yang sangat berbahaya, maka ibu Umbut berenang menepi dan segera naik ke daratan. Akan tetapi sungguh malang nasib bagi anaknya. Si Umbut Muda ia tergulung angin puting beliung. Ia terpelanting ke dalam sungai lalu tenggelam bersama jatuhnya jembatan sungai Siak.

Baca juga : dongeng anak menjaga kebersihan lingkungan

Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa, tak bisa memberikan pertolongan kepada anaknya. Akhirnya, gadis durhaka itu mati terbawa derasnya arus sungai. Sang ibu pun kehilangan putri yang di sayanginya dan sekaligus menyakitkan hati. Dan masyarakat sekitar mempercayai bila di sungai Siak Indrapura ada angin puting beliung. Maka pertanda ada pelanggaran adat serta syariat agama. Oleh karena itu, di Siak Indrapura tidak ada orang yang berani berlaku kejam pada ibunya. apalagi berbuat macam-macam.

Demikianlah Dongeng Anak Durhaka Si Umbut Muda. Semoga bermanfaat.

Incoming search terms:

  • cerita dongeng rakyat jelata
  • kumpulan dongeng anak durhaka
  • kumpulan cerita anak bangsawan
  • Cerita rakyat jelata
  • si umbutmuda anak durhaka
  • suara air mengalir yg deras dlm dongeng
  • sinopsis cerita rakyat umbut muda
  • ringkasan cerita si umbut muda anak dua harga
  • Kumpulan Cerita rakyat dan dongeng masakan gulai umbut
  • Si Umbut Muda
  • kisah cerita rakyat si umbut muda anak durhaka
  • dongeng si umbut mud
  • Cerita umbut muda dlm bhs inggris beserta artinya
  • cerita umbut muda
  • cerita rayat dhi sertai jumlah kata
  • Cerita legenda umut umut muda
  • cerita legenda umbut muda menggunakan bahasa inggris
  • cerita dongeng rakyat jelata dalam b inggris
  • umbut muda
Dongeng Anak Durhaka Si Umbut Muda | Tukang Dongeng | 4.5